Senin, 16 November 2015

Direktur RSUD Gunungsitoli Pecat Tiga Pegawai BLUD Secara Mendadak


Dr. Julianus Dawol

GUNUNGSITOLI – wartaekspres.com – Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gunungsitoli,  Dr. Julianus Dawolo, secara mendadak memecat dengan tidak hormat tiga pegawai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), Pemerintah Kabupaten Nias, Jumat (13/11).

Pemecatan ketiga orang pegawai BLUD tersebut sesuai surat pemberhentian yang diterbitkan Julianus dengan Nomor 800/ 6787/ Peg, 800/ 6788/ Peg, dan 800/ 6789/ Peg, pertanggal 13 November 2015 lalu.

Ketiga pegawai BLUD dimaksud masing-masing berinisial TJZ (23), AT (23), serta NL (23), ketiganya merupakan pegawai di Instalasi Patologi Klinik RSUD Gunungsitoli yang bertugas sebagai Staf Analis Laboratrium.

Dalam surat pemberhentian dilayangkan Julianus, pemecatan ketiga pegawai BLUD tersebut terkait pelanggaran fatal yang mereka lakukan dengan bekerja sebagai pegawai di rumah sakit atau instansi lain. (Angel)

Baca juga www.wartaekspres.com

Selama Menjabat Martinus Lase Dinilai Hamburkan Uang Negara


Delisama Nduru

GUNUNGSITOLI – wartaekspres.com – Jelang berakhirnya masa jabatan Drs. Marthinus Lase, M.SP sebagai Walikota Gunungsitoli, Desember mendatang, sejumlah penilaian miring terhadap kepemimpinannya selama lima tahun belakangan mulai bermunculan.

Seperti diungkapakan Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Laskar Anti Korupsi Indonesia (LSM-LAKI) Kepulauan Nias, Delisama Nduru, kepada wartaekspres.com belum lama ini. Menurutnya, Martinus gagal dan tidak sanggup membawa perubahan istimewa di Kota Gunungsitoli selama duduk menjadi walikota.

“Selama Martinus memimpin keuangan negara banyak terbuang sia-sia, contohnya dalam penggunaan dan pemenfaatan aset daerah yang dibangun dengan menggunakan uang negara, seperti terminal angutan umum, kios atau los, gedung perkantoran, dan bangunan lainnya,” ujarnya

Lanjut Delisama lagi, begitu juga dengan pembangunan infrasturktur di desa-desa, masih banyak jalan pedesaan belum terbangun, jembatan penghubung antara dua desa belum terbangun, serta bangunan-bangunan sekolah yang tergolong kumuh.

Baca selengkapnya di www.wartaekspres.com

Merasa Kecewa, Relawan Paslon Yulham: Jangan Nilai Kami Dengan Rupiah


Ilham Mendrofa

GUNUNGSITOLI – wartaekspres.com – Jelang pilkada serentak mendatang, seorang tim relawan pemenangan pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Yuliaman Zendrato dan Ilham Mendrofa (Paslon Yulham), mengungkapkan rasa kekecewaannya melalui jejaring sosial facebook, Senin (15/11).

Dalam akun facebooknya bernama lengkap Agustyeenn Innazz Prizzcyla, sang relawan menuliskan, tidak terima atas tindakan Tim Sukses paslon Yulham saat menggelar pertemuan ramah tamah antar warga di Desa Siwalubanua II, Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, Kota Gunungsitoli, beberapa waktu lalu.

“Pak Ilham, kami gak suka ya dengan perilaku TS bapak, kalau seperti ini sistemnya tadi lebih baik, kami tim posko kawan YULHAM tak usah diundang, karena kami merasa malu terhadap warga yang kami bawa hari ini untuk mengenal bapak, dimana tak dapat sentuhan sama sekali,” tulisnya.

Sebutnya lagi, jika harga diri mereka (relawan) tidak dapat dinilai dengan rupiah yang dibagi-bagikan tim sukses saat pertemuan. “Jangan jadikan kami seperti pengemis untuk uang yang Rp. 20. 000, karena harga diri kami tidak dapat dibeli dengan uang,” demikian akhir tulisan relawan dimaksud.

Baca selengkapnya di www.wartaekspres.com

Pecat Tiga Pegawai BLUD, Sikap Julianus Dawolo Dinilia “Sadis”


Julianus Dawolo

GUNUNGSITOLI – wartaekspres.com – Pecat tiga pegawai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), Kabupaten Nias secara mendadak, sikap Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gunungsitoli, Dr. Julianus Dawolo, dinilai tergolong sadis dan tidak berperikemanusian.

Demikian diungkapkan TJZ kepada wartaekspres.com, Minggu (15/11), saat ditanyai seputar pemecatan dirinya sebagai pegawai BLUD di RSUD Gunungsitoli. Selain Julianus, menurut TJZ, Kepala Tata Usaha RSUD Gunungsitoli juga memiliki sikap dan sifat yang sama.

“Direktur tidak punya rasa kemanusiaan terhadap kami pegawai rendahan ini, karena bila ada tentunya ia bertanya dahulu atau memberikan surat peringatan sebelum melakukan pemecatan, bukan main pecat seenak perutnya kayak gini,” ucapnya.

TJZ mengungkpakan, bahwa tindakan yang diambil itu guna menyelamatkan nyawa pasien dalam kondisi kritis, di mana pasien tersebut membutuhkan donor darah, namun menurut Direktur tindakan itu merupakan kesalahan fatal.

Baca selengkapnya di www.wartaekspres.com